Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2019

Guru... Saya Bosan Hidup


Seorang laki-laki mendatangi gurunya, “Guru ... saya sudah bosan dengan hidup ini, jenuh dengan segala rutinitas, pekerjaan saya berantakan, setiap usaha saya selalu gagal, teman-teman saya tidak ada lagi yang mempedulikanku, saya benar-benar ingin mati saja”. Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”.
“Tidak guru, saya tidak sakit. Saya sehat, saya hanya bosan dengan semua ini”. Seolah-olah tidak mendengar pembicaraan muridnya, guru itu meneruskan, “Kamu sakit, kamu menderita Sindrome Hidup. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.

Banyak diantara kita yang kalah dalam kehidupan, dan kemudian tanpa sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma. Hidup seharusnya berjalan terus, mengalir terus, tapi kita mahluk status-quo. Kita bertahan di suatu tempat, kita tidak ikut mengalir. Itulah sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Pertahanan kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, jika kamu bertekad untuk sembuh dan mendengar nasihatku." Demikian si guru menyarankan. "Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak mau hidup lagi."

Lelaki itu menolak tawaran si guru. "Jadi kamu tidak mau sembuh?? "Kamu betul-betul ingin mati?" Tanya si guru. "Ya, memang saya sudah bosan dengan hidup ini", lelaki itu menjawab dengan yakin. "Baik, petang esok kamu akan mati seperti yang kamu ingini. Ambillah botol ini. Setengah botol di minum malam ini, setengah botol lagi kamu minum petang esok jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang." kata si guru sambil tersenyum.

Lelaki tersebut heran dan bingung. Setiap orang yang dia jumpai selama ini sentiasa memberikannya semangat untuk hidup. Guru yang satu ini aneh. Guru ini malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh dan tidak mau hidup lagi, dia menerimanya dengan senang hati.

Sampai rumah, lelaki itu langsung meminum setengah botol racun yang disebut "obat" oleh si guru. Dan, dia merasakan ketenangan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai... Dia menikmati ketenangannya itu. Masa berjalan dan tinggal 1 hari, 1 malam dia akan mati.

Lali-laki itu berfikir, dia akan bebas dari segala macam masalah. Malam itu, dia memutuskan untuk makan malam di luar bersama keluarganya. Sesuatu yang sudah tidak pernah dia lakukan selama beberapa tahun kebelakangan ini. Dia fikir ini merupakan malam terakhir, jadi dia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, dia bersenda gurau dengan keluarganya. Suasananya pun menjadi sangat santai dan tenang! Sebelum tidur, dia mencium isterinya dan membisik di telinganya, "Sayang, aku mencintaimu." Sesuatu yang sudah lama dia tidak ungkapkan di bibirnya.

Subuh esok harinya, dia membuka tirai dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan dia segera beranjak ke masjid, sesuatu yang juga sudah sangat dilakukannya selama ini. Kembali ke rumah setengah jam kemudian, dia mendapati isterinya masih tertidur. Kemudian digoyankanlah dengan pelan tubuh istrinya,sambil berbisik "Sayang..., bangun... subuhan dulu." Kemusian dia segera ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk isterinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, dia ingin meninggalkan kenangan manis kepada semua orang di sekelilingnya.

Di kantor, dia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita bersikap baik sekali ya?" Dan sikap mereka pun terus berubah. Mereka pun menjadi lembut. Kerana siang itu adalah siang terakhir, dia ingin meninggalkan kenangan manis juga kepada pekerjanya. Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Dia menjadi ramah dan lebih bertoleransi, bahkan dia lebih bersikap menghargai terhadap apa-apa yang berlaku di sekelilingnya.

Tiba-tiba dia merasakan hidupnya menjadi indah. Dia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 petang, ia mendapati isteri tercinta menunggunya di beranda depan. Selama ini, si isteri yang memberikan ciuman kepadanya dan berkata, "Sayang, sekali lagi saya minta maaf, jika selama ini saya selalu menyusahkan sayang." Anak-anak pun tidak mahu ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena kelakuan kami. "Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Dia membatalkan niatnya untuk mengakhiri hidup. Tetapi dia tersentak, bagaimana dengan setengah botol yang sudah dia minum, petang semalam?

Dia bergegas berjumpa dengan si guru. Melihat wajah lelaki itu, si guru terus mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata, "Buang saja botol itu. Isinya cuma air kosong saja. Kau sudah sembuh bukan?? Apabila kau hidup dalam arus kehidupan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahawa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini. Buangkan egomu, leburkan keangkuhanmu, nyahkan kesombonganmu. Jadi lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan menikmati hidup bersama-sama yang lain. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan "..

Lelaki itu mengucapkan terima kasih dan menyalami si guru, dia lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Dia tidak pernah lupa hidup dalam arus kehidupan, sentiasa mengalir terus.  Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup... Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati.

"Anda tidak akan pernah menang, jika anda tidak pernah mengambil langkah untuk memulakan."

~~~~~~~~ 💕💖💗💖💕 ~~~~~~~~


Rabu, 20 November 2019

Menaklukkan Harimau



Suatu kali di sebuah desa, ada seorang istri yang mengeluhkan perubahan sikap suaminya. Sang suami yang kembali dari perang membela kerajaan, kini berubah perangainya.

Jika dulu penyabar dan sangat menyayangi istrinya, kini menjadi gampang marah, mudah tersinggung, dan bahkan sering mengeluarkan kata-kata kasar.
Awalnya, sang istri berusaha terus bersabar dengan kondisi tersebut. Ia yakin, suaminya suatu saat akan berubah kembali seperti semula. Namun, beberapa bulan berlalu, entah mengapa perangai suaminya tidak juga berubah.
Sang istri nyaris putus asa, bahkan sudah berniat menyudahi pernikahan mereka. Beruntung, saat mengadukan masalahnya pada seorang sahabat dekat, ia mendapat informasi adanya seorang pertapa di gunung yang sangat sakti.
Demi kecintaan yang mendalam kepada suaminya, sang istri pun menempuh perjalanan cukup jauh untuk bertemu dengan sang pertapa.
“Wahai pertapa yang baik, aku punya masalah dengan suamiku yang berubah sifatnya setelah pergi menunaikan tugas membela kerajaan. Apakah Anda bisa membuatkan ramuan sakti, atau adakah cara lain untuk mengembalikan sifat kasih suamiku seperti dulu?”
Tampak sang pertapa berpikir sejenak. “Memang, ada banyak orang yang berubah sifat setelah usai berperang. Sebenarnya itu wajar, mengingat perang meninggalkan banyak korban dan kepedihan. Jangan khawatir, ada sebuah cara untuk itu. Hanya perlu satu syarat lagi, agar harapanmu bisa terkabulkan.”
“Apa itu?” tanya sang istri tak sabar. “Aku pasti akan segera memenuhinya.”
“Aku hanya butuh tiga lembar kumis harimau di hutan!” sebut sang pertapa yang membuat sang istri kaget.
“Bagaimana aku bisa mengambil kumis dari binatang buas itu?”
“Semua terserah padamu. Kamu yang butuh ramuan ini, lakukan perintahku ini. Jika tidak, ramuan ini tak akan bisa bekerja seperti yang kamu minta,” seru pertapa tegas.
Meski berat syarat yang diminta—karena begitu besar cintanya dan tak ingin keluarganya berantakan—si istri menurut. Maka, setelah tahu ke mana biasanya harimau bersarang di tengah hutan, dikumpulkan keberaniannya untuk mengamati sang harimau.
Beberapa hari mengamati, si istri mendapat akal. Di sebuah pagi buta, sebelum harimau keluar dari sarangnya, ia menyiapkan nasi yang dilumuri kuah daging di depan sarang harimau. Pelan sekali ia melakukan itu. Tentu, dengan hati berdebar, ia tak ingin membuat harimau terbangun dan menerkamnya.
Lantas, dari jauh, ia pun mengamati, apakah harimau itu mau makan makanan pemberiannya.
Ternyata, meski semula didiamkan, lama-lama makanan tersebut mulai dijilati harimau dengan lahap. Si istri senang, taktiknya berhasil. Maka, hari-hari berikutnya—meski tetap dengan ketakutan yang masih bersisa—ia terus memberikan mangkuk nasi dengan aroma kuah daging.
Beberapa bulan berlalu. Saat itu, keberaniannya mulai bertambah. Sang harimau pun seperti sudah akrab dengan kebiasaannya menyediakan mangkuk nasi aroma daging.
Saat ia mendekati sarang harimau, derap kecil langkahnya mulai dikenali sang harimau. Sehingga, tak lama ia menaruh mangkuk, sang harimau segera datang memakan dengan lahap.
Begitu seterusnya, hingga akhirnya, si istri mulai berani lebih dekat lagi dengan harimau yang terlihat lebih jinak.
Tak terasa, delapan bulan lamanya. Akhirnya si istri dan harimau kini benar-benar menjadi sahabat akrab. Si istri sering mengelus kepala harimau, dan sebaliknya, harimau kerap bermanja-manja dengan si istri.
Saat itulah, si istri dengan kelembutannya memohon pada harimau untuk mau memberikan tiga helai kumisnya sebagai bagian dari ramuan untuk suaminya.
Tak lama kemudian, si istri datang kepada sang pertapa untuk memberikan tiga helai kumis harimau tersebut. Sang pertapa pun bertanya, apakah benar itu adalah kumis harimau hidup yang asli. “Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa mendapatkan kumis itu?”
Si istri lantas berkisah, bagaimana selama delapan bulan terakhir, ia mencoba menaklukkan keganasan harimau. Dari awalnya sangat takut, pelan-pelan mencoba memberikan makanan, hingga akhirnya menjadikan harimau itu sebagai sahabat.
Sang pertapa lantas mengangguk-angguk senang. Namun tiba-tiba, tiga kumis harimau itu bukannya dibuat ramuan, tetapi malah dibuang ke perapian dan segera lenyap tak berbekas.
Si istri terkejut sekali dengan tindakan sang pertapa. “Pak pertapa, mengapa melakukan itu…? Itu adalah kumis harimau yang aku dapat dengan perjuangan sangat berat…!” ratap si istri.
Tenang, sang pertapa menjawab. “Kamu tak perlu ramuanku lagi. Kamu lihat, harimau yang ganas saja bisa takluk dengan kesabaranmu. Lalu, bagaimana jika hal yang sama kamu perlakukan pada manusia, yakni suamimu? Aku yakin, emosi yang sering muncul dari suamimu pelan tapi pasti bisa kamu taklukkan seperti kamu menjinakkan harimau itu. Pulanglah, kembali pada suamimu, dan perlakukan dia dengan kesabaran dan kasih sayang.”
Kisah tersebut adalah cerita tentang kegigihan seseorang dalam mencoba memecahkan masalah yang dihadapi. Butuh kesabaran ekstra, bahkan sangat lama, untuk mengatasi kondisi-kondisi yang kadang memang kurang mengenakkan.
Tapi, semua bisa dihadapi dengan kesabaran dan ketekunan. Masalah datang bukan untuk ditinggalkan, tapi diselesaikan. Halangan dan rintangan memang kerap mengunjungi hingga membuat kita terasa tersakiti, tapi sebenarnya itu adalah “ujian” untuk membuat kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Untuk meraih sesuatu memang butuh pengorbanan. Tak ada proses yang berjalan instan. Seperti kisah si istri penakluk harimau yang saya bagikan ini.Kesabaran tingkat tinggi yang ditunjukkan mampu menjadi solusi luar biasa—yang bahkan dianggap mustahil pada awalnya—untuk mengatasi persoalan apa saja.
Mari, sadari bahwa semua berproses. Kuatkan keyakinan, tambahkan kesabaran, mantapkan ketekunan. Niscaya, akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meraih kemenangan sejati.

Kisah Tenggelamnya Kapal Pesiar

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.
Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”
Sebagian besar murid-murid itu menjawab,
“Aku benci kamu!”
“Kamu tau aku buta!!”
“Kamu egois!”
“Nggak tau malu!”
Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab. Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.
Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”
Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”
Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”
Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.
Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal.
Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”
Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.
Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.
Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.
Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.
Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.
Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.
Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.
Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.
Mereka yang sering menyanjungmu setinggi langit, mungkin bukan karena engkau pahlawan, tapi mungkin karena mereka memaafkan keburukanmu.
Mereka yang selalu menghinamu dan menghakimimu, mungkin bukan karena mereka membencimu, tapi karena mereka ingin menguji ketulusan cintamu.

Minggu, 27 Oktober 2019

Entah Apa


Entah Apa



Hasil gambar untuk entahlah
Sebut saja namaku Sagiman, jangan tanya itu artinya apa? Yang saya tahu dari orangtuaku, itu hanya untuk mempermudah mengingat sejarah saja, ya... sejarah lahir saya yang mbrojol ke dunia ini pada hari Sabtu Legi (meskipun saya juga nggak tahu pasti dan nggak punya bukti tangal lahirku, karena saat itu belum ada Android sehingga pas mau keluar saya nggak bisa Selfi dulu), dan karena saya laki-laki maka ditambahkan saja man (katanya diambil dari bahasa inggirs biar gaul begitu...). Tidak ada yang istimewa dalam diri saya, hanya laki-laki biasa. Bahkan sebagian orang mungkin akan menganggap saya ini di bawah standar biasa. Tapi apapun yang sudah dianugrahkan Alloh, semua tetap saya syukuri, saya sangat yakin dengan yang difirmankan-Nya bahwa “Apapun yang diciptakan-Nya tidak ada yang sia-sia”.

Nah... karena itu, saat ini yang saya lakukan dan akan terus saya lakukan adalah berusaha menggali dan menemukan potensi yang bisa saya eksplore agar saya bisa berbagi manfaat pada sesama mahluk. Mimpinya sih, bisa ikut mewarnai dunia (entah pakai krayon, pensil warna atau cat semprot). Yah.. . paling tidak bisa bermanfaat untuk orang terdekat lah.

Banyak sebenarnya yang ingin saya lakukan, tapi hanya sedikit yang bisa saya lakukan. Dan saya tidak mau mengklaim ini semua akibat kebodohan saya (saya yakin Alloh tidak menciptakan mahluk include dengan kebodohan), meskipun juga akan sangat memalukan jika saya mengaku-ngaku pinter, mungkin yang paling tepat adalah karena KEMALASAN dan KETAKUTAN saya. Mencoba melawan ketakutan itu, saya paksakan diri untuk mulai menulis, menulis apa saja. Yang penting mengajari jemari agar tidak ragu menari di atas keyboard. Termasuk tulisan ini, nggak ada alurnya bahkan ekstrimya “ORA NGGENAH”. 

Tapi abaikan omongan orang, kalau enak dibaca pastilah akan dibaca dan kalau memuakkan pastilah akan dibuang, take it easy lah. Inilah stage pertama yang saya lakukan, yaitu mengalahkan ketakutan (takut dicibir, takut dihina, takut bilang apa).

Sampai disini, lagi-lagi saya berfikir sebenarnya yang saya tulis ini apa? Makin nggak jelas, tapi tetap harus jalan (istilah gaulnya Move On gitu). Analoginya, saya berada di tengah hutan nggak tahu ke arah mana harus berjalan pulang dan parahnya nggak bawa kompas apalagi GPS. Nggak ada opsi lain selain harus berjalan sambil mencari jalan keluar, karena kalo berdiam diri sama artinya dengan memaksa datangnya takdir buruk. Sangat jelas terngiang firman Alloh
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Pokoknya jalan terus, sambil mengintip arah sinar matahari yang menerobos dari sela-sela dedaunan hutan, satu-satunya penunjuk arah.

­~bersambung~

Sabtu, 26 Oktober 2019

LAGI GALAU


AKU INI SEDANG FUTUR


aku ini sedang futur
hati jadi gelisah, semua serba salah
maunya marah-marah
malas beribadah

aku ini sedang futur
semangatku luntur
segalanya jadi terasa hambar
seperti sayur yang kurang garam
karna itu kupinta nasihat darimu
agar aku tidak semakin terpuruk ..

dan kau pun menjawab
dengan kata-kata bijak penuh hikmah
hangat dan sarat dengan kasih sayang
"wahai saudaraku ...
cobalah renungkan, apa gerangan penyebab futurmu?
apakah karena kebanyakan tugas, sehingga keberatan beban?
atau sebaliknya, tidak ada tugas yang 'menantang'
sehingga segalanya menjadi rutinitas belaka..
jika penyebabnya adalah alasan pertama, maka ketahuilah..
tubuh pun punya hak untuk istirahat
pergilah ke tempat sujudmu,
atau buat suasana rumah berbeda
agar kembali segar jiwamu..
jika penyebabnya alasan kedua,
maka berpikirlah kreatif..
cari kegiatan baru yang belum pernah kau lakukan sebelumnya
dan buatlah target baru untuk dirimu..
tahukah engkau, seseorang akan menjadi jenuh
jika ia hanya mengharapkan untuk menerima,
dan kemudian tidak mendapatkan apa yang ia harapkan..
oleh karena itu, jadilah orang yang senantiasa memberi
pergilah engkau dengan semangat yang berkobar
agar orang lain tertular oleh semangatmu

I Care About You




Teman adalah hadiah dari Alloh buat kita.
Seperti hadiah,ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan,atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja,atau kepribadian yang biasa saja,atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah,ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya,ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur,menangis bersama,dan tertawa bersama.Kita mencintai dia dan dia mencintai kita. Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai,justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya.

Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANlah karena mereka pada dasarnya buruk,tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan simpati kita,kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita.
Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka takut air",mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll,karena bagaimanapun mereka manusia yg punya harga diri dan membutuhkan pengakuan
akan keberadaan dirinya.

It's a defense mechanism.

Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka tidak akan bilang : "Aku tidak bisa menari"
Tapi mereka akan bilang : "Menari itu tidak menarik."
Mereka tidak akan bilang : "Aku membutuhkan kamu" ;
Tapi mereka akan bilang :  "Tidak ada yang cocok denganku."
Mereka tidak akan bilang : "Aku kesepian" ;
Tapi mereka akan bilang : "Teman-temanku sudah lulus semua"
Mereka tidak akan bilang ; "Aku butuh diterima"
Tapi mereka akan bilang : "Aku ini buruk,siapa yang bakal tahan denganku"
Mereka tidak akan bilang ; "Aku ingin didengarkan"
Tapi mereka akan bilang : "Kisah hidupku membosankan.."

Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita. Berikanlah makna di dalam kehidupan Anda bukan hanya untuk diri Anda sendiri saja melainkan juga untuk  membahagiakan sesama manusia di dalam lingkungan kehidupan Anda. Berikanlah waktu bagi diri Anda dengan digabung oleh rasa kasih. Sehingga anda dapat mengerti arti nilai dari waktu.

Untuk mengetahui nilainya waktu SATU TAHUN tanyakanlah kepada mahasiswa yang tidak lulus ujian. 
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU BULAN tanyakanlah kepada Ibu yg melahirkan bayi secara premature. 
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MINGGU tanyalah kepada redaksi dan editor dari majalah minggguan. 
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU JAM tanyakanlah kepada seorang kekasih yg sedang menunggu kedatangan pacarnya. 
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU MENIT tanyakanlah kepada orang yg terlambat untuk naik kereta api. 
Untuk mengetahui nilainya waktu SATU DETIK tanyakanlah kepada seorang yg barusan saja mengalami musibah karena kelalaian dalam sedetik saja.

Yesterday is history, tommorow is mistery, today is a gift!
That's why it's called the present!

Seorang sahabat sama seperti satu permata yg tak ternilai harganya. Seorang kawan bisa membuat kita ceria, membuat kita terhibur.
Mereka meminjamkan kupingnya kepada kita pada saat kita membutuhkannya. Mereka bersedia membuka hati maupun perasaannya untuk berbagi suka dan duka dengan kita pada saat kita membutuhkannya. Maka dari itu janganlah buang waktu yang Anda miliki, janganlah sia-sia kan waktu yg sedemikian berharganya.
Bagikanlah sebagian dari waktu yg Anda miliki untuk seorang kawan. Pasti waktu yg Anda berikan tsb akan berbalik kembali seperti juga satu lingkaran walaupun terkadang kita tidak tahu dari mana dan dari siapa datangnya. Pergunakanlah waktu sebaik-baiknya karena hari-hari ini adalah jahat.


God is your best friend, He really cares about you !

Jangan Meremhkan Pekerjaan

Jangan Meremehkan Pekerjaan




Dua orang pemuda yang tak berpengalaman mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor bangunan, namun keduanya mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Pemuda pertama bernama Hendro, ia mendapatkan tugas untuk mengerjakan kusen kayu dan daun pintu. Sedangkan pemuda yang kedua bernama Dede, mendapatkan tugas untuk mengaduk semen dan pasir serta memasang bata.
Dalam pikiran Hendro, pekerjaannya sebagai tukang kayu lebih ringan dan mudah dibandingkan dengan Dede. Namun kejutan muncul saat dia tahu ternyata rumah yang akan dibangun adalah rumah dengan desain antik dan banyak ukiran kayunya, hal itu diluar dugaan Hendro. Setelah berkali-kali diajari oleh tukang senior di perusahaan itu dan tidak bisa juga, Hendro akhirnya putus asa. Ia pun mendatangi Dede yang giat bekerja tanpa lelah, untuk berdiskusi, kemungkinan tukar pekerjaan dan ternyata Dede setuju.
Dede pun akhirnya mengerjakan pekerjaan bagian Hendro, tentunya dengan dilatih terlebih dahulu. Setelah beberapa waktu, sang mandor memeriksa pekerjaan kedua anak baru tersebut. Mandor itu terpana dengan hasil kusen dan pintu yang dikerjakan dengan begitu baik. Ia pun bertanya “Siapa yang mengerjakan ini?” Pegawai yang ada di sana langsung menunjuk Dede.
Sang Mandor penasaran, bagaimana Dede bisa bekerja dengan begitu baik dan tidak seperti temannya Hendro yang menyerah berhenti di tengah jalan.
“Bagi saya sederhana saja Pak,” ujarnya dengan rendah hati. ”Lakukan semuanya dengan tulus dan jangan meremehkan apapun. Dengan begitu, saya lebih mengerti saat diajarkan dan bersungguh-sungguh mengerjakannya.”
Itulah rahasia keberhasilan Dede, dia tidak cepat berasumsi dan meremehkan pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Sikapnya pada akhirnya membantu dia mencapai keberhasilan. Hal sama berlaku juga dengan hidup kita, dalam kehidupan kita akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan seringkali menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk melangkah maju mencapai keberhasilan.
Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi tantangan itu, jangan pernah meremehkan atau sebaliknya merasa tidak mampu dan menolaknya. Coba belajarlah dengan sungguh-sungguh, lalu bekerjalah dengan sepenuh hati, niscaya kerja keras kita tidak akan sia-sia.
copas from : https://iphincow.com/

Belenggu Keyakinan

Belenggu Keyakinan





Pada suatu hari yang cerah di sebuah kota, seorang pria berencana pergi ke tempat pertunjukan sirkus dengan membawa anak dan istrinya.
Niatnya sederhana, ingin memberikan hiburan kepada keluarga di hari libur sekolah.
Sebelum sampai ke tempat pertunjukan, pria tersebut harus melewati sebuah perkemahan dengan tenda yang berukuran besar berisi gajah-gajah sirkus.
Gajah-gajah dengan ukuran besar berdiri melamun dengan kondisi satu kaki yang diikat oleh rantai kecil.
Tidak ada pagar sama sekali, setiap gajah hanya diikat dengan rantai kecil di salah satu kakinya dan tidak ada yang berusaha untuk kabur, semuanya terdiam.
Sepanjang perjalanan pria tersebut terus memandangi gajah-gajah tersebut dengan mimik wajah yang kebingungan.
Mengapa?
Pria tersebut berpikir, mengapa sang gajah dengan ukuran sebesar itu tidak menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk memutuskan rantai kecil yang mengikat salah satu kakinya kemudian lari dari perkemahan tersebut.
Namun sebaliknya setiap gajah hanya berdiri terdiam tidak melakukan apapun.
Dengan wajah yang masih kebingungan pria tersebut menghampiri sang pawang yang daritadi juga berdiri disekitar perkemahan gajah tersebut.
Pria tersebut bertanya, mengapa para gajah itu hanya terdiam dan tidak ada satupun yang berusaha untuk kabur padahal hanya diikat dengan rantai kecil disalah satu kakinya?
Sang pawang pun tersenyum kemudian menjawab:
Ketika mereka masih sangat muda dan berukuran jauh lebih kecil dari sekarang kami menggunakan rantai dengan ukuran yang sama untuk mengikat mereka, dan pada usia itu, cukup untuk menahan mereka.
Seiring mereka tumbuh dewasa mereka dikondisikan untuk percaya bahwa mereka tidak dapat melepaskan diri.
Karenanya sampai sekarang mereka masih percaya bahwa rantainya masih bisa menahan mereka, sehingga mereka tidak pernah mencoba membebaskan diri.
copas from : https://iphincow.com/